Meriah, Ribuan Warga Kembiritan Banyuwangi Ikuti Pawai Festival Endhog-endhogan, Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H

BanyuwangiNews.com– Memasuki bulan Rabiul Awwal, masyarakat Banyuwangi kembali menggelar tradisi khas yang selalu dinanti, yakni endhog-endhogan. Tradisi yang diwariskan lintas generasi ini digelar hampir di seluruh pelosok daerah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Telur rebus yang dihias bunga kertas ditancapkan pada batang pisang berhias (jodhang), lalu diarak keliling kampung atau ditata di masjid. Sepanjang arakan, masyarakat melantunkan selawat, barzanji, hingga doa bersama.

BACA BERITA :

https://banyuwanginews.com/view/demonstrasi-dan-refleksi-moral-partai-politik

https://banyuwanginews.com/view/tni-polri-gelar-patroli-skala-besar-perkuat-keamanan-banyuwangi

https://banyuwanginews.com/view/appi-kawal-penyaluran-pupuk-bersubsidi-sosialisasi-aturan-pendistribusian-pupuk-subsidi

https://banyuwanginews.com/view/kemenag-banyuwangi-instruksikan-madrasah-gelar-istighotsah-man-1-banyuwangi-laksanakan-dengan-khidmat

Salah satu gelaran terbesar berlangsung di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Jumat (5/9/2025). Ribuan warga tumpah ruah mengikuti pawai sejauh 2,2 kilometer dari Masjid Baiturrahman hingga Kantor Desa Kembiritan. Beragam jodhang telur hias dibawa warga, diiringi tabuhan rebana dan lantunan selawat, menciptakan suasana religius sekaligus meriah.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang melepas jalannya pawai mengapresiasi antusiasme masyarakat. “Endhog-endhogan bukan hanya perayaan meriah, tetapi juga bentuk kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menjaga kebersamaan, keguyuban, sekaligus nilai gotong royong warga,” ujarnya.

Kreativitas masyarakat semakin terlihat lewat beragam ornamen megah yang dihadirkan. Mulai dari replika Ka’bah, pohon kurma, unta, hingga perahu tumpeng telur raksasa. Salah satunya karya warga Dusun Krajan Dua yang menghadirkan perahu setinggi 6-7 meter berisi 1.500-2.000 telur hias, dikerjakan gotong royong oleh 30-40 orang selama sepekan dengan biaya swadaya sekitar Rp7 juta.

“Semua ini murni kerja sama warga untuk memeriahkan festival. Kami kerjakan siang-malam demi menjaga tradisi leluhur,” kata koordinator warga, Taufiq Hidayat.

Menurut Panitia Festival, Guntur, perayaan tahun ini jauh lebih semarak. Ada 221 kreasi dari tujuh dusun di Kembiritan yang ditampilkan. Sejak dua tahun terakhir, Endhog-endhogan Kembiritan resmi menjadi bagian dari Banyuwangi Festival (B-Fest), sehingga semakin banyak warga yang berpartisipasi.

“Selain pawai, kegiatan juga dilanjutkan dzikir maulid dan pengajian di Masjid Baiturrahman. Bahkan sejak 25 Agustus lalu, kami sudah mengawali dengan gerakan membaca 1000 selawat,” jelas Guntur yang juga Ketua Takmir Masjid Baiturrahman.

Tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan juga bentuk syiar agama dan ekspresi kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Related Post

Tinggalkan Komentar

banyuwanginews.com

Merupakan Media Online yang berada di Banyuwangi dengan mengutamakan informasi yang cerdas, Akurat dan berimbang