Grebeg Suro di Petilasan Tawang Alun Diserbu Ribuan Warga, Gunungan Hasil Panen Ludes dalam Sekejap

BanyuwangiNews.com - Tradisi budaya Grebeg Suro di Petilasan Prabu Tawang Alun, Desa Sraten, Kecamatan Cluring, kembali menyedot perhatian masyarakat. Ribuan warga dari berbagai wilayah memadati kawasan petilasan pada Minggu (15/6/2026) untuk mengikuti rangkaian acara yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Banyuwangi tersebut.

Salah satu prosesi yang paling ditunggu adalah Tawur Agung Gunungan, yaitu arak-arakan gunungan berisi beragam hasil pertanian yang kemudian diperebutkan masyarakat. Gunungan yang tersusun dari padi, jagung, cabai, buah-buahan hingga berbagai jenis sayuran menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Sejak pagi hari, masyarakat telah berdatangan dan memenuhi area petilasan. Setelah rangkaian doa bersama dan ritual adat selesai dilaksanakan, warga langsung bergerak menuju gunungan. Suasana pun berubah meriah ketika ribuan tangan berebut hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga dan usaha mereka.

Tradisi rebutan gunungan bukan sekadar kegiatan seremonial. Bagi masyarakat, prosesi tersebut memiliki makna mendalam sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan sekaligus harapan agar hasil pertanian di masa mendatang semakin baik. Nilai kebersamaan dan gotong royong juga menjadi bagian penting yang terus diwariskan melalui kegiatan tersebut.

Petilasan Prabu Tawang Alun sendiri merupakan salah satu situs bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan Kerajaan Blambangan. Setiap peringatan bulan Suro, lokasi ini menjadi pusat kegiatan budaya yang mempertemukan unsur sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat.

Kepala Desa Sraten, H. Rahman, menyampaikan bahwa Grebeg Suro merupakan agenda tahunan yang terus dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan budaya leluhur, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan antar warga.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menjaga warisan budaya yang telah ditinggalkan para leluhur. Selain sebagai bentuk rasa syukur, Grebeg Suro juga menjadi media edukasi bagi generasi muda agar mengenal sejarah dan budaya daerahnya,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya tarik kuat. Bahkan, sejumlah pengunjung dari luar Banyuwangi turut hadir untuk menyaksikan langsung prosesi budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Desa Sraten tersebut.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, Grebeg Suro di Petilasan Prabu Tawang Alun tetap bertahan sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah dan kearifan lokal. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat Banyuwangi tidak dapat dipisahkan dari nilai syukur, kebersamaan, dan penghargaan terhadap hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan mereka.

(Ali)

Related Post

Tinggalkan Komentar

banyuwanginews.com

Merupakan Media Online yang berada di Banyuwangi dengan mengutamakan informasi yang cerdas, Akurat dan berimbang