Dukungan Denmark, Perempuan Banyuwangi Sulap Lahan Gersang Jadi Agroforestry
- by Admin
- 11 Juli 2025
BanyuwangiNews.com - Sebuah langkah hijau lahir dari ujung timur Pulau Jawa. Tepatnya di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, ratusan perempuan kini tengah menjalankan misi besar: menyulap lahan bekas tambang pasir menjadi kawasan pertanian ramah lingkungan. Program ini bukan sekadar penghijauan, tapi bagian dari gerakan tangguh menghadapi perubahan iklim yang melibatkan 300 perempuan dari tiga desa.
Program bertajuk Penanaman Lahan Wanatani dan Peluncuran Eco Space Desa Damai Tangguh Perubahan Iklim ini diluncurkan langsung oleh Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E. Sten Frimodt Nielsen, pada Selasa (8/7/2025). Peluncuran ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono dan Direktur Wahid Foundation, Siti Kholisoh.
Lahan seluas 3 hektar yang dulunya gersang karena aktivitas tambang kini ditanami 300 bibit pohon petai dan alpukat. Kawasan ini akan menjadi percontohan agroforestry, atau wanatani, yang menggabungkan unsur pertanian dan kehutanan demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan.
“Krisis iklim tak lagi bisa diabaikan. Kita sudah merasakan dampaknya, dari banjir, gagal panen, hingga bencana ekologis lainnya. Maka, upaya seperti ini menjadi sangat penting, apalagi melibatkan perempuan sebagai ujung tombaknya,” kata Dubes Denmark, Nielsen, dalam sambutannya.
Nielsen menyebut pendekatan lokal seperti ini sangat relevan untuk menjawab tantangan global. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan edukasi berkelanjutan, termasuk pemanfaatan lahan tidur menjadi ruang hijau produktif.
Program ini merupakan bagian dari proyek WE CARE (Women Empowering Communities Against Rising Environmental Threats) dari Wahid Foundation. Selain Desa Bangsring, program ini juga menyasar Desa Grajagan (Kecamatan Purwoharjo) dan Desa Barurejo (Kecamatan Siliragung). Para perempuan peserta akan mendapatkan pendampingan intensif dari perguruan tinggi mitra, mulai dari proses pembibitan hingga panen.
“Tak hanya bertani, mereka juga akan belajar membuat pupuk organik, beternak, hingga mengelola limbah rumah tangga agar menjadi sumber ekonomi baru. Eco Space ini dirancang untuk mengembangkan kapasitas dan kemandirian perempuan desa,” jelas Siti Kholisoh.
Wakil Bupati Mujiono mengapresiasi inisiatif tersebut dan berharap program ini menjadi pemantik bagi inisiatif serupa di wilayah lain.
“Ini bukan sekadar penghijauan, tapi upaya membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan masyarakat dari bawah. Semoga Banyuwangi bisa menjadi contoh daerah lain dalam menanggapi isu perubahan iklim secara bijak dan inklusif,” tuturnya.(Ali)
